“Kaifa Haluk???”
June 8th, 2008 by mydreamblogzz“Kaifa haluk???” atau “How are you???”, topik ini lagi hangat2nya dibicarain di milist 2003. Intinya si tentang teman-teman yang cerita aktivitas kerja/pendidikannya sekarang. Topik ini juga selalu diangkat kalo tis ketemu temen lama. Pertanyaannya selalu “Tis pa kabar? Sekarang kerja dimana?” Pertanyaan yang wajar & lumrah. Tapi pertanyaan ini bisa aja mengganggu ketika kita emang belum memiliki status yang jelas “kerja dimana” alias jobseeker. Secara… nyari kerja di bumi Indonesia ini gak gampang, terlebih nyari pekerjaan yang emang sesuai dengan idealisme kita. Yeah, that’s life in Indonesia. Masalahnya adalah mayoritas mental yang terbentuk ketika kita lulus adalah “mental pencari kerja” bukan “mental pencipta lapangan kerja”. For me, that’s okay for now, but one day in the future I have to create lapangan kerja.
“Al-an: Ana mudarrisah fi Al-Jannah wa Nurul Fikri”
Hmm, sebelumnya af1 ya kl bahasanya jadi campur2 begini. Tapi emang sengaja kok,sekalian latihan!
Tis sekarang kerja sebagai counseling teacher di Sekolah Alam & Sains Al Jannah dan Bimbel Nurul Fikri. I really enjoy these jobs. Both of them make me feel worthy. Bergaul dengan anak-anak dan remaja emang bener2 menyenangkan ketimbang bergaul dengan data. Tis pernah freelance di one of consultant, dan kerjaannya scoring… melulu!! I really feel bored! Kalo kerjanya sekali-sekali sih mungkin gak papa, tapi kalau harus tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik, aduh… ampun deh!
Thanx God, now I work as a teacher. Di mana waktu kerjanya tidak segila waktu kerja di perusahaan. Liburnya juga lebih banyak ketimbang perusahaan, so I still can do another activity, for example join Arabic class (doakan ya bisa sampai level terakhir, Alhamdulillah di PBAT sudah separuh perjalanan nih:). Alhamdulillah juga tis dapat tempat kerja yang jalannya bebas macet, kalau kata bapakku sih “Orang yang tinggal or kerja di sini nih bakal panjang umur coz gak perlu stress mikirin macet”.
Sekolah Al Jannah ini sekolah inklusi. Ada yang autis, hiperaktif, down syndrome, terlambat perkembangan motoriknya (lupa istilahnya), dll. Di sini kita bisa belajar berempati. Anak-anaknya pun unik-unik. I love them very much. Tis jadi teringat seorang teman yang berpesan “Tis kalau nanti hamil jangan stress ya!”. Ya ini pesan juga buat teman2lainnya. Based on pengalamannya, ternyata ketika hamil dia dalam kondisi stress coz ada masalah tak terduga yang tak bisa dihindari. Beberapa bulan setelah lahir anaknya dideteksi mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Dan sampai saat ini temen tis harus terus bolak-balik terapi (mhn doanya ya).
Being a counselor, we try to find the source and solution of children problem. Kalo yang tis lihat mayoritas permasalahan anak muncul karena terutama dari pihak orangtuanya yang bermasalah, entah orangtua yang terlalu sibuk, orangtua yang menerapkan disiplin berlebihan kepada anak, dll. Ya itulah… kebanyakan dari pasangan menikah tidak menyiapkan diri dari segi psikologis dan keilmuan (ilmu agama ataupun lainnya) untuk menjadi orangtua. They don’t know how to raise their children nicely. Jadi teringat pernyataan dari Dorothy Law Nolte:
Jika anak dibesarkan dengan celaan ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia akan belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
Silahkan direnungkan kata2nya. Semoga bisa jadi bekal if one day kita jadi orangtua :). Well, honestly banyak hal yang pengen tis ceritain, but sekarang ceritanya sampe disini aja. Next time kita sambung lagi ya… ^_^